Negara Rusia Sudah Diambang Resesi

- Kamis, 17 November 2022 | 10:58 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin (ist)
Presiden Rusia Vladimir Putin (ist)

Bekasikinian.com, Moscow - Menurut laporan, Rusia secara resmi telah memasuki ambang resesi. Hal ini disebabkan penurunan 4% Produk Domestik Bruto (PDB) negara adidaya itu pada kuartal ketiga 2022.

The Moscow Times melaporkan pada Kamis (17/11/2022) bahwa informasi tersebut didasarkan pada perkiraan yang diterbitkan Rabu lalu oleh badan statistik negara bagian nasional Rosstat.

Secara umum, resesi didefinisikan sebagai dua kuartal atau lebih secara berturut-turut dari kelemahan ekonomi selama setahun. Penurunan PDB mirip dengan kontraksi 4% pada kuartal kedua karena sanksi Barat menghantam ekonomi Rusia menyusul serangan Moskow terhadap Ukraina.

Baca Juga: Rusia Caplok 4 Wilayah Ukraina, Kemenlu RI: Langgar Prinsip Piagam PPB dan Hukum Internasional

Kontraksi tersebut disebabkan oleh penurunan perdagangan grosir sebesar 22,6 persen dan penurunan perdagangan eceran sebesar 9,1 persen. Namun sisi baiknya, sektor konstruksi Rusia tumbuh sebesar 6,7% dan pertanian sebesar 6,2%. Rosstat juga mencatat bahwa tingkat pengangguran Rusia mencapai 3,9 persen pada September tahun lalu.

Sebelumnya, bank sentral Rusia telah memprediksi pada 8 November bahwa produk domestik bruto (PDB) akan berkontraksi sebesar 3,5% tahun ini. Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia juga memperkirakan produk domestik bruto Rusia turun masing-masing sebesar 3,4 persen dan 4,5 persen.

Di sisi lain, perlu dicatat bahwa terakhir kali Rusia mengalami resesi teknis adalah pada akhir 2020 dan awal 2021, saat dunia sedang dilanda pandemi Virus Corona. Perekonomian Rusia juga berjalan baik di awal tahun 2022, dengan pertumbuhan PDB sebesar 3,5%.

Baca Juga: Sejumlah Pendaki Gunung Berapi Tertinggi di Rusia Tewas

Namun, dimulainya serangan Ukraina memicu serangkaian sanksi Barat. Terakhir, pembatasan impor dan ekspor, dan masalah pasokan suku cadang sangat mempengaruhi ekonomi Rusia.

Bank memangkas suku bunga acuan mereka menjadi 20% dari 9,5% untuk melawan inflasi dan menopang rubel setelah Rusia berada di bawah sanksi Barat atas serangan Ukraina. (sy)

Halaman:

Editor: Romy Syawaluddin

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Haji 2023, Arab Saudi Terima Dua Juta Jamaah

Rabu, 25 Januari 2023 | 08:22 WIB

Amerika Utara Tetapkan Awal Ramadhan, Ini Tanggalnya

Selasa, 24 Januari 2023 | 14:54 WIB

Google Berhentikan 12.000 Karyawannya

Jumat, 20 Januari 2023 | 22:41 WIB

Alhamdulillah, Biaya Haji 2023 Turun

Jumat, 20 Januari 2023 | 22:23 WIB

Arab Saudi Lepaskan 1.500 Hewan Langka

Jumat, 20 Januari 2023 | 08:33 WIB

7 Fakta Pesawat Yeti Airlines Yang Jatuh di Nepal

Senin, 16 Januari 2023 | 11:31 WIB

Pesawat Jatuh di Nepal, 68 Tewas

Senin, 16 Januari 2023 | 11:18 WIB

Sempurna! Fajar/Rian Jadi Juara Malaysia Open 2023

Senin, 16 Januari 2023 | 01:17 WIB
X